Jangan Disepelekan, Ini 9 Tanda Tubuh Terlalu Banyak Mengonsumsi Gula

by

Makanan dan minuman manis memang sulit ditolak. Mulai dari kopi susu, minuman kemasan, kue, cokelat hingga makanan ringan, gula dapat ditemukan dalam berbagai produk yang dikonsumsi sehari-hari.

Gula sendiri merupakan sumber energi bagi tubuh. Namun, konsumsi gula tambahan secara berlebihan dapat membawa sejumlah dampak bagi kesehatan. Tubuh bahkan dapat memberikan sinyal ketika asupan gula mulai terlalu banyak.

Masalahnya, tanda-tanda tersebut sering dianggap sebagai kondisi biasa. Padahal, perubahan seperti cepat lapar, mudah lelah, hingga terus menginginkan makanan manis patut menjadi perhatian.

Berikut sembilan tanda yang bisa muncul ketika tubuh terlalu banyak mendapatkan asupan gula.

1. Sering Merasa Lapar

Rasa lapar yang muncul terus-menerus bisa menjadi salah satu tanda pola makan terlalu tinggi gula.

Makanan tinggi gula umumnya tidak memberikan rasa kenyang yang sama seperti makanan yang mengandung protein, serat, dan lemak sehat. Akibatnya, seseorang dapat kembali merasa lapar dalam waktu relatif singkat dan terdorong untuk ngemil.

2. Mudah Lelah

Gula memang dapat memberikan energi dengan cepat. Namun, efek tersebut tidak selalu bertahan lama.

Setelah terjadi peningkatan energi, tubuh dapat mengalami penurunan energi sehingga muncul rasa lemas atau mengantuk. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa membutuhkan makanan atau minuman manis lagi untuk mendapatkan energi.

3. Mudah Marah atau Suasana Hati Berubah

Perubahan energi setelah mengonsumsi makanan tinggi gula juga dapat berpengaruh terhadap suasana hati.

Seseorang mungkin menjadi lebih mudah tersinggung, gelisah, atau mengalami perubahan mood. Jika kondisi tersebut sering terjadi bersamaan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan manis, pola makan sehari-hari perlu diperhatikan.

4. Selalu Ingin Makanan Manis

Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah munculnya keinginan kuat untuk kembali mengonsumsi makanan atau minuman manis.

Gula dapat mengaktifkan sistem penghargaan di otak yang berkaitan dengan rasa senang. Hal ini dapat membuat seseorang terus mencari makanan manis dan semakin sulit mengurangi konsumsinya.

5. Makanan Terasa Kurang Manis

Jika makanan yang sebelumnya sudah terasa manis kini dianggap kurang manis, bisa jadi lidah telah terbiasa dengan tingkat kemanisan yang lebih tinggi.

Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang menambahkan gula atau memilih produk dengan kandungan gula lebih tinggi agar mendapatkan rasa yang dianggap sesuai.

6. Berat Badan Bertambah

Kelebihan kalori dari makanan dan minuman tinggi gula dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.

Risikonya semakin besar apabila makanan manis dikonsumsi secara rutin tanpa diimbangi pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang cukup.

7. Muncul Jerawat

Pola makan tinggi gula juga dikaitkan dengan kondisi kulit pada sebagian orang.

Konsumsi makanan dengan kandungan gula tinggi dapat memengaruhi proses metabolisme dan peradangan yang berpotensi memperburuk masalah kulit, termasuk jerawat. Karena itu, perubahan kondisi kulit juga dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi pola makan.

8. Mengalami Gangguan Pencernaan

Terlalu banyak gula dapat memicu keluhan pada sistem pencernaan, terutama pada orang yang sensitif terhadap jenis makanan tertentu.

Keluhannya dapat berupa perut kembung, kram, atau diare. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi berbagai faktor lain sehingga tidak tepat langsung menyimpulkannya sebagai akibat gula.

Jika gangguan pencernaan terus berulang, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

9. Nyeri atau Pegal pada Persendian

Asupan gula berlebihan dapat berkaitan dengan proses peradangan dalam tubuh. Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat disertai keluhan seperti nyeri atau rasa tidak nyaman pada persendian.

Namun, nyeri sendi memiliki banyak kemungkinan penyebab. Karena itu, gejala tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator bahwa seseorang mengalami kelebihan konsumsi gula.

Bedakan Kecanduan Gula dan Gula Darah Tinggi

Istilah “kecanduan gula” sering digunakan untuk menggambarkan keinginan kuat mengonsumsi makanan manis. Namun, kondisi tersebut berbeda dengan gula darah tinggi atau diabetes.

Gejala seperti sering haus, sering buang air kecil, kelelahan berat, penglihatan kabur, luka yang sulit sembuh, atau perubahan berat badan tanpa sebab jelas perlu mendapat perhatian medis karena dapat berkaitan dengan gangguan kadar gula darah.

Karena itu, jangan menjadikan satu atau dua gejala sebagai dasar untuk melakukan diagnosis sendiri.

Batasi Gula Tambahan

Langkah paling sederhana adalah mulai memperhatikan sumber gula dalam makanan dan minuman sehari-hari.

Minuman manis, makanan ringan, kue, saus, serta berbagai produk olahan dapat menyumbang gula tambahan tanpa disadari. Mengurangi konsumsi secara bertahap dan menggantinya dengan makanan yang lebih kaya serat, protein, serta nutrisi lain dapat membantu membangun pola makan yang lebih seimbang.

Jika muncul keluhan yang menetap atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Dengan begitu, penyebab sebenarnya dapat diketahui dan penanganan bisa dilakukan sesuai kondisi tubuh.